SEMUA BERITA TENTANG
KANKER


 

Lycopene, Cegah Penyakit Kronis


Toronto - 27 Sep 00 07:13 WIB - (Astaga!com)

PENYAKIT kronis, termasuk kanker dan penyakit kardiovaskular, adalah penyebab utama kematian di negara berkembang.  Faktor genetik, gaya hidup, dan diet juga harus dipertimbangkan sebagai faktor risiko penting penyebab penyakit tersebut.  Misalnya saja, sekitar 50% semua jenis kanker disebabkan oleh cara
makan yang salah.
        Kerusakan sel oksidatif juga diperkirakan ikut pegang peranan menjadi
penyebab munculnya penyakit-penyakit tersebut.  Bagaimana mengatasinya? Mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan diduga para ahli bisa mengatasi, paling tidak, mengurangi risiko terkena penyakit tersebut.  Antioksidan banyak ditemukan pada buah dan sayuran dan buah berwarna, seperti tomat. Buah yang satu ini mengandung lycopene, pigmen karoten yang dikenal sebagai antioksidan yang sangat potensial.  Beberapa penelitian telah membuktikan keampuhan lycopene ini.  Misalnya dalam the Canadian Medical Association Journal, Sanjiv Agarwal dan Akkinappally Venketeshwer Rao, beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa diet yang mengandung tinggi lycopene berpengaruh
positif sebagai pelindung tubuh dari penyakit kronis.
        Hal ini jelas sangat menggembirakan. Pasalnya, buah dan sayuran kini sedang gencar-gencarnya direkomendasikan sebagai pola makan yang sehat, ditambah lagi ternyata manfaatnya bisa sebagai pelindung dari penyakit yang kini banyak ditakuti.  Tapi kedua ahli tersebut juga menyarankan penelitian lanjutan. "Seperti berapa takaran lycopene yang pas sebagai pelindung dari penyakit kronis tersebut. Atau berapa banyak yang baik bila hanya digunakan sebagai makanan sehat," ujar mereka. (susandijani).

 


 

Pekerjaan Bertani Lindungi Wanita
dari Kanker Payudara

Chapel Hill - 20 Sep 00 11:27 WIB - (Astaga!com)

WANITA yang bekerja di pertanian jarang yang terkena kanker payudara
dibandingkan wanita yang tinggal di kota.  Mungkinkah?  Padahal, paparan pestisida konon justru meningkatkan risiko terkena kanker.
        "Hasil temuan menunjukkan bahwa bertani, melindungi wanita yang bekerja di pertanian dari kanker payudara, jika dibandingkan dengan populasi umumnya," kata Dr Eric Duell, dari University of North Carolina di Chapel Hill (UNC-CH).
        Para ahli dari berbagai disiplin dari UNC-CH ini meneliti 862 pasien kanker payudara yang tinggal di 24 kawasan North Carolina dan membandingkannya dengan 790 wanita lainnya yang tidak menderita kanker payudara, kata Duell. Mereka memiliki semua data mulai dari catatan kesehatan, sejarah pekerjaan, termasuk juga semua informasi pekerjaan pertanian sejak mereka berumur tujuh tahun, penggunaan pestisida, informasi mengenai tanaman dan ternak.
        Hasil analisis semua data, yang dilaporkan selengkapnya dalam jurnal Epidemiology edisi September 2000, menunjukkan wanita yang bertani lebih dari 23 tahun, risikonya terkena kanker payudara 40 % lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah tinggal di pertanian.  Mereka yang bekerja di pertanian dengan jangka waktu yang lebih lama, mendapatkan perlindungan dari kanker payudara lebih besar, sedangkan yang tidak terlalu lama perlindungannya lebih rendah.
        Mengapa itu terjadi para ahli masih belum bisa menyimpulkan.  Faktor yang mungkin penting adalah wanita di pertanian cenderung melahirkan anak lebih cepat dan memiliki anak lebih banyak. Mereka mencapai fase pubertas lebih lambat dan memasuki fase menopauses lebih awal.
        Mereka juga cenderung kurang merokok dan meminum minuman beralkohol
dibandingkan wanita lainnya. Tetapi jika secara statistik faktor itu dikontrol, tetap tidak mempengaruhi efek perlindungan dari pekerjaan pertanian. Para ahli tidak bisa menetapkan efek aktivitas fisik, yang oleh sejumlah ahli diperkirakan mengurangi risiko terkena kanker payudara. (harry surjadi)

 


 

Hati-hati Mengkonsumsi Vitamin Suplemen

 

DR. JOHN POTTER dari Seattle's Fred Hutchinson Cancer Rearch Center, mengingatkan kita untuk hati-hati mengkonsumsi vitamin suplemen karena bisa saja suplemen tersebut sebagai pupuk bagi penderita penyakit kanker.

Untuk lebih jelasnya lihat artikel di bawah ini:


Dietary Supplements
No Substitute For Proper Diet

September 5, 2000
WASHINGTON (AP) - Nutritionists call the survey alarming: More older Americans - the people most at risk of cancer - say they're popping unproven dietary supplements in a quest for tumor-fighting nutrients than trying to eat more cancer-protective foods.
Add this newest trend to those hot fad diets and the nation's rising obesity, and cancer experts are increasingly worried.  Americans don't seem to heed the warnings that what you put on your plate day after day can truly influence whether you'll get cancer.

Eating more fruits and vegetables just must not be a sexy enough message.  "That's why the food supplements industry is worth $40 billion and why the (profit) margin on vegetables and fruits is so small they don't even get advertised," Dr. John Potter of Seattle's Fred Hutchinson Cancer Research Center says in frustration.  There's no proof yet that pills and powders prevent cancer, and some supplements may actually increase tumor risk, Potter notes.

"This is of real concern.  We need people to focus more on factors we know are cancer-preventive," adds nutritionist Melanie Polk of the American Institute for Cancer Research, which conducted the recent survey of 1,010 people.  More than half of respondents over age 55 took vitamins specifically to lower their cancer risk - and a quarter took additional supplements like garlic or fish oil - yet just 39 percent preferred the proven method of changing their diet.  So Tuesday, the AICR launches a major campaign to teach Americans what a cancer-protective diet literally looks like: Fruits,
vegetables, whole grains and/or beans should cover two-thirds of the dinner plate.

That's not rocket science.  But who even considers cancer when they're deciding between a high-fat bacon cheeseburger or the lower-fat grilled tuna?  Or measures if that's a reasonable 1 cup of spaghetti or a whopping 3 cups? Or knows a serving of green beans is the size of half a baseball, or admits they count french fries when asked how many vegetables they eat?  Not to mention those high-protein fad diets.  They do cause rapid
weight loss, Potter says.  But "we don't even know what the long-term consequences are," he cautions. In contrast, cancer experts recommend meat servings the size of a deck of cards.

Many factors play a role in cancer.  Lung cancer, for example, is the world's leading cancer killer and tobacco is almost always the cause.  But bad diets - continually bad, not the occasional indulgence - are a culprit, too.  People could cut their risk by one-third simply by eating more fruits and vegetables, concludes an exhaustive scientific
review led by Potter.

Why?  They're low in fat while high-fat diets are a risk for many cancers. They're low in calories; being overweight significantly increases cancer risk, too.  Plant foods are full of vitamins, minerals and phytochemicals that help the body defend itself against malignant cells.

A single tomato, whether fresh or brewed into sauce, contains hundreds of phytochemicals like the antioxidant lycopene, linked to reduced prostate and other cancers.  Berries are high in fiber and ellagic acid, another cell-protective substance.  Carrots are full of beta carotene; spinach has that antioxidant plus vitamin C and folic acid.  Cherries have quercetin, another potent antioxidant.  Grapes are rich in flavonoids that seem to fight heart disease as well as cancer.
 
Add in whole grains like wheat and oats, rich in substances that seem to impair cancerous cells' ability to invade healthy tissue.  Risk of lung cancer, and startling research recently concluded cancerous tumors absorb vitamin C, raising questions about megadoses.

So what do cancer experts eat?  Choices at an AICR meeting last week:  grilled tuna, high in "omega-3 fatty acids" that fight heart disease and show promise against certain cancers.  Couscous, for high-fiber grain, with tomatoes and asparagus.  Brown rice salad with dried cherries, raisins, apricots and walnuts.  And for dessert, berry- filled tarts.

Why can't pills substitute?  Food's magic seems to be the complex interactions of dozens of phytochemicals, Polk explains.  While 190 solid studies prove the fruit-and-vegetable benefit, supplements have only a smattering of evidence, Potter says.  Some ultimately may prove to be cancer-fighters - Fred Hutchinson is about to test that in a study of 75,000 people.  But too much of one nutrient, or taking it without its companion nutrients, can be dangerous, Potter notes.  Beta carotene pills have actually increased smokers'.

Copyright 2000 The Associated Press. All rights reserved.

 


 

Wortel Rebus Ternyata
Tinggi Gizinya

WORTEL ternyata tak hanya efektif dimakan segar.  Tapi juga bisa dikukus kemudian dibuat semacam puree kentang.  Cara memasak seperti itu terbukti tidak mengurangi nilai gizinya.  Bahkan kandungan antioksidannya jadi lebih banyak.  Demikian hasil penelitian dari Universitas Arkansas.
        Ahli gizi, professor Luke Howard dan asistennya, S.T. Talcott dan C.H. Brenes mengukur kadar antioxidan pada wortel segar dan wortel yang sudah dikukus.  Hasilnya wortel yang sudah dikukus mengandung kadar antioksidan lebih tinggi dibanding wortel segar.  Hasil penelitian ini juga dilaporkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry, yang dipublikasikan the American Chemical Society.
        "Jadi anggapan sayuran segar itu lebih sehat, tidak selalu benar," tambah Howard.
        Howard dan koleganya memasak wortel tersebut dengan dan tanpa kulit luarnya.  Kemudian mengukur aktivitas antioksidan selama empat minggu lebih.  Parameter yang diukur adalah subtansi antioksidan, seperti asam fenolik dan betakaroten.  Seperti diketahui, antioksidan bisa menetralisasi radikal bebas yang menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, Alzheimer, dan masalah pencernaan.
        Para peneliti menyebutkan bahwa kadar antioksidan meningkat 34,3% segera setelah proses pemasakan selesai dan bertambah terus selama satu minggu kemudian.  Setelah itu menurun, tapi tetap lebih tinggi kadarnya dibanding kadar antioksidan pada wortel mentah.
        "Penelitian ini membuktikan bahwa wortel yang sudah diproses ternyata lebih baik untuk mencegah kerusakan oksidatif dibanding wortel mentah," tambah Howard.  Tapi, dia juga menyebutkan perlu penelitian lanjutan yang bisa menjelaskan ketersediaan wortel yang sudah dimasak dibanding wortel mentah.
        Anda suka yang mana?  Paling tidak, kini ada pilihan yang bisa menjadi alternatif, ya? (susandijani)

 


 

Rokok Mengakibatkan
Bahaya Kanker Kandung Kemih

 

MENURUT Asosiasi Kanker Amerika (ACS), ada sekitar 53.200 kasus baru kanker kandung kemih tahun ini di Amerika.  Dan sekitar 12.200 dari mereka meninggal karena penyakit tersebut.
        Mengapa rokok bisa meningkatkan risiko kanker kandung kemih?  Zat kimia yang terdapat dalam rokok, akan masuk ke dalam aliran darah.  Kemudian mengikuti proses penyaringan di ginjal, dan melewati kandung kemih sebelum dikeluarkan melalui urine.
        Tapi seringkali, zat kimia tersebut tertinggal di dalam kandung kemih, dan merusak sel-selnya.  Bila terus bertumpuk, kondisi tersebut akhirnya akan meningkatkan risiko terjadinya kanker.


The Bladder: The Organ that Stores Urine

The bladder is a hollow organ in the lower abdomen.  It stores urine, the waste that is produced when the kidneys filter the blood.  The bladder has a muscular wall that allows it to get larger and smaller as urine is stored or emptied.  The wall of the bladder is lined with several layers of transitional cells.  Urine passes from the two kidneys into the bladder through two tubes called ureters.  Urine leaves the bladder through another tube, the urethra.

What Is Cancer?
        Cancer is a group of many different diseases that have some important things in common.  They all affect cells, the body's basic unit of life.  To understand different types of cancer, such as bladder cancer, it is helpful to know about normal cells and what happens when they become cancerous.
        The body is made up of many types of cells.  Normally, cells grow and divide to produce more cells only when the body needs them.  This orderly process helps keep the body healthy.  Sometimes cells keep dividing when new cells are not needed.  These cells form a mass of extra tissue, called a growth or tumor.  Tumors can be benign or malignant.
        Benign tumors are not cancer.  They often can be removed and, in most cases, they do not come back.  Cells in benign tumors do not spread to other parts of the body.  Most important, benign tumors are rarely a threat to life.  Malignant tumors are cancer.  Cells in malignant tumors are abnormal and divide without control or order.  These cancer cells can invade and destroy the tissues around them.  Also, cancer cells can break away from a malignant tumor and enter the bloodstream or the lymphatic system.  This process is the way cancer spreads from the original (primary) tumor to form new tumors in other parts of the body.  The spread of cancer is called metastasis.

Some common symptoms of bladder cancer include:
· Blood in the urine (slightly rusty to deep red in color).
· Pain during urination.
· Frequent urination, or feeling the need to urinate without results.

Researchers have found that white people in the United States get bladder cancer twice as often as African-Americans, and men are affected about three times as often as women.  People with family members who have bladder cancer may be more likely to get the disease as well.  Most bladder cancers occur after the age of 55, but the disease can also develop in younger people.

Known and possible risk factors for bladder cancer include:
· Smoking.  This is a major risk factor.  Cigarette smokers develop bladder cancer two to three times more often than do nonsmokers.  Quitting smoking reduces the risk of bladder cancer, lung cancer, and several other types of cancer, as well as a number of other diseases.
· Occupational risk.  Workers in some occupations are at higher risk of getting bladder cancer because of exposure to carcinogens in the workplace.  Increased risk is seen in people in the rubber, chemical, and leather industries, as well as in hairdressers, machinists, metal workers, printers, painters, textile workers, and truck drivers.

 

 


 

'Soy Protein' Bagi Penyakit Jantung


FDA dan  New England Journal of Medicine  menginformasikan bahwa `soy protein' dapat menurunkan kadar kolesterol yang dapat menurunkan risiko penyakit jantung.  Juga University of Illinois mengatakan `kedelai' dapat membantu pencegahan 'osteoporosis/pengapuran tulang'.  Juga baik buat wanita yang sudah menopause dan juga proteksi yang baik untuk penyakit kanker dan tumor.
        Mengkonsumsi sebanyak 25 gram `protein kedelai' setiap hari dapat menurunkan penyakit jantung. 25 gram protein tersebut diperoleh dalam 3 gelas susu kedelai.  Setiap gelas susu kedelai berisikan 7 gram protein kedelai.  Tahu/tofu dapat berisikan 5-13 protein untuk setiap potong tahu bilamana sepotong  tahu diasumsikan beratnya kira-kira 85 gram.
        Pilih lebih banyak mengkonsumsi  susu kedelai atau  makan tahu atau tempe agar dapat memperkecil risiko terkena penyakit jantung, kanker, tumor atau pengapuran tulang.


The Food and Drug Administration says products containing soy protein may lower cholesterol levels, which can lead to a reduced risk of heart disease.
        The U.S. Food and Drug Administration approved the following statement, which manufacturers of soy products can now print on their goods.  This statement joins only 10 other health claims OK'd by the agency.
        "Diets low in saturated fat and cholesterol that include 25 grams of soy protein may reduce the risk of heart disease.  One serving of (name of food) provides ____ grams of soy protein."  For example, you can get about 25 grams of soy protein by drinking three cups of soy milk or eating three to four servings of firm tofu.  That is, one cup of soymilk or four ounces of firm tofu each contains about seven grams of soy protein.

Soy Beyond Tofu
Lots of folks, when they hear the word soy, think tofu, and they immediately get turned off to the thought of even trying a soy product.  Tofu comes in a variety of consistencies, some soft and squishy, others more solid.  Depending on the type you choose, tofu can contain between five and 13 grams of protein per slice (if the slice weighs about 85 grams).

Last updated March 01, 2000.  Used with the permission of the copyright owner.  All rights reserved.

Soy-based products lower cholesterol.  For many years, the medical community has suspected that soy protein lowered cholesterol, but studies were inconclusive.  In 1995, the New England Journal of Medicine published an analysis concluding that "the consumption of soy protein rather than animal protein significantly decreased serum concentrations of total cholesterol, LDL cholesterol, and triglycerides without significantly affecting serum HDL cholesterol concentrations."  Thirty-eight controlled clinical trials were included in the analysis.  The average intake of soy protein was 47 grams per day, equivalent to the amount in 1/2 cup of soy flour, and the average decrease in total cholesterol was 9.3 percent.  If your total cholesterol was 220 and you ate 1/2 cup of soy flour per day, you could expect to lower your cholesterol to around 200 with no other changes in your diet!
        Soy protein may also reverse osteoporosis.  As many as 20 years ago, studies indicated that substances found in high concentrations in soy protein called isoflavones might be used to increase calcium retention in bones.  One derivative of the isoflavones, ipriflavone, was found to increase the total amount of calcium retained in the bones of rats, sheep, and chickens.  In Hungary, Italy, and Japan,
ipriflavone is being administered orally in doses ranging from 600 mg to 1200 mg per day to postmenopausal women with low bone mass, and it's producing significant increases in radial bone mineral density after only one year of use.  Currently, a team at the University of Illinois is studying a group of women who have added 40 grams of soy protein to their diets daily for six months (Forty grams of soy protein is equivalent to the amount found in two soy burgers).  Their
bone density will be monitored and a report on the study was expected in 1997.
        Soy may be a menopausal woman's best friend.  Soy isoflavones are changed by intestinal bacteria into phytoestrogens (plant estrogens), three of which are daidzein, equol and genistein.  Actually, most of the "natural" progesterone and estrogens currently available in this country are derived from soybean plants.  Genistein is about a hundred thousandth as strong as the estrogen in our bodies but it has the ability to lock onto receptor sites designed for estrogen.  When it does this, the impact of fluctuating hormone levels is lessened because estrogen is prevented from affecting different parts of the body so strongly.  In a recent study published in the journal Maturitas, a group of researchers supplemented the diets of 58 postmenopausal women with 45 grams of soy flour daily and found that the incidence of hot flashes was reduced by forty percent.
        Soy may also offer protection against breast cancer.  When phytoestrogens from soy fill up some of the estrogen receptor sites in the body, including those in the breast, ovaries, and uterus, the result is a longer interval between menstrual periods.  In Japan, where soy products are an integral part of the diet, the average
menstrual cycle is 32 days; in the United States, it's 26 to 29 days.  Researchers in England have tested this discrepancy in cycle length by including 60 grams of soy protein in the diet of female test subjects and then removing the soy while monitoring their cycles (Sixty grams of soy protein is equivalent to the amount in three quarters of a cup of soybeans).
        Soy may protect against other cancers.  Genistein has another intriguing quality -- it inhibits the formation of new blood vessels.  Once we reach adulthood, there is no normal need to grow new blood vessel networks except when healing after an accident or surgery.  In order for tumors to increase in size, however, they need to create networks of blood vessels to bring nutrients into their interiors.  If this process is inhibited, the tumor can't grow very large.  A review article that appeared in the March 1995 Journal of Nutrition concludes that "in two-thirds of studies on the effect of genistein- containing soy materials in animal models of cancer, the risk of cancer (incidence, latency, or tumor number) was significantly
reduced."
        This article by Lenore Howe first appeared in Convergence, A Magazine for Personal & Spiritual Growth and Holistic Health, Spring 1997.  Subscriptions are $15.00 per year from Riverside Communications, One Sanborn Road, Concord, New Hampshire 03301.

 


 

Apel Memperlambat Pertumbuhan Kanker

Jumat, 01 September 2000

SUATU pengujian di Cornell University telah menunjukkan bahwa zat-zat kimia alami dalam apel dapat memperlambat pertumbuhan tingkat sel-sel kanker usus dan kanker hati pada manusia. Makin kuat konsentrasi ekstrak-ekstrak apel tersebut, maka tingkat reproduksi sel-sel kanker juga makin lambat, demikian laporan para ilmuwan Cornell dalam jurnal Nature di edisi baru-baru ini.
        Efek anti-kanker terkuat ada dalam ekstrak dari apel yang belum dikupas, karena mengandung lebih banyak antioksidan fitokimiawi.  Antioksidan yang relatif banyak ditemukan dalam ekstrak apel dapat membantu menjelaskan mekanisme perlindungan terhadap kanker tersebut.
        Penelitian ini memang tidak dirancang untuk membuktikan nutrien tertentu apa dalam apel yang dapat melindungi seseorang terhadap kanker atau bagaimana caranya.  Oleh karena itu masih terlalu dini untuk mengatakan bahan-bahan apa dalam apel yang menyediakan perlindungan dan bahwa dengan mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang cukup merupakan cara terbaik untuk memperendah risiko kanker.
        "Namun," kata David Ringer, PhD, direktur program ilmiah di American Cancer Society, "karena kita belum mengetahuinya, cara yang paling pasti untuk mendapatkan perlindungan tersebut adalah dengan mengkonsumsi beragam buah-buahan dan sayur-sayuran setiap hari, dan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran setiap hari.  Kami mengetahui hal tersebut dari penelitian-penelitian diet yang amat luas."
        Manfaat-manfaat kimia ini tidak hanya diperoleh dari apel saja, namun juga ditemukan dalam tanam-tanaman yang langsung dikonsumsi atau langsung digunakan oleh masyarakat. Contohnya adalah fitokimia dalam teh, tampaknya mampu menghalangi pertumbuhan pembuluh darah yang memberi makan sel-sel kanker, demikian menurut riset di Tufts University, Boston.
        Penelitian Cornell menunjukkan bahwa makanan yang amat banyak tersedia ini dapat menyediakan perlindungan antioksidan melawan kanker. Penelitian tersebut juga berguna untuk mengarahkan pada penelitian di masa depan. Para ilmuwan sedang berada dalam tahap awal pengertian dampak fitokimia pada kesehatan manusia.

Sumber: satumed.com, satunet

 


 

Lima Rahasia Buah Jeruk


MENGAPA jeruk begitu banyak dianjurkan dikonsumsi untuk kebugaran,
kecantikan, dan kesehatan?  Katanya bisa menurunkan risiko penyakit
kardiovaskular dan penyakit yang berhubungan dengan umur.  Ayo simak lima kunci rahasianya!
        Vitamin C Jeruk adalah gudang vitamin C yang terbaik.  Vitamin C dikenal sebagai antioksidan yang berperan melawan gejala-gejala ketuaan atau penyakit yang berhubungan dengan usia.  Beberapa penelitian membuktikan bahwa makanan yang mengandung kadar vitamin C tinggi bisa menurunkan risiko terjadinya berbagai jenis kanker dan kerusakan jantung. Vitamin C juga sangat penting dalam sistem imunisasi, terutama selama musim flu.
        Asam Folik Jeruk adalah sumber alami asam folik.  Penelitian terbaru yang didukung lembaga pengawasan obat dan makanan Amerika (FDA) dan dipublikasikan dalam the American Journal of Clinical Nutrition, memperkirakan bahwa wanita yang tidak memetabolisme asam folik berisiko tinggi melahirkan bayi dengan down syndrome. Karena itu tak heran kalau bisa departemen kesehatan Amerika menganjurkan agar para ibu hamil untuk mengkonsumsi asam folik dalam jumlah cukup.  Penelitian lain juga menyebutkan bahwa asam folik bisa membantu mencegah penyakit fatal yang berkaitan dengan usia, seperti penyakit jantung, kanker, bahkan Alzheimer.
        Flavonoid, antioksidan yang satu ini pun banyak terdapat dalam jeruk.  Seperti diketahui, antioksidan berfungsi untuk menetralisir kerusakan yang disebabkan radikal bebas.  Kerusakan radikal bebas ini bisa mengakibatkan berbagai penyakit, termasuk kanker.
        Karbohidrat Dalam satu buah jeruk ukuran sedang terdapat 16 gram karbohidrat yang mengandung 70 kalori.  Karbohidrat sangat penting sebagai sumber energi tubuh, terutama untuk otak.  Juga energi untuk olahraga.  Selama berolahraga, otot-otot menggunakan cadangan karbohidrat (glikogen), yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari.  Konsumsi jeruk setelah berolahraga akan segera mengganti energi yang digunakan.
        Serat Nilai serat dalam sebuah jeruk setara dengan 12% yang dibutuhkan per hari.  Fungsi serat jelas sangat penting.  Antara lain, membantu proses pencernaan. Serat dalam jeruk juga bisa membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, juga menurunkan risiko penyakit jantung.  Jenis serat yang larut dalam air, seperti yang terdapat dalam jeruk, bisa membantu menurunkan rasa lapar.  Berita baik untuk mereka yang ingin menurunkan berat badan. (berbagai sumber/susandijani)

 


 

Kanker

Senin, 03 April 2000

KANKER adalah pertumbuhan jaringan yang baru sebagai akibat dari proliferasi (pertumbuhan berlebihan) sel abnormal secara terus menerus yang memiliki kemampuan untuk menyerang dan merusak jaringan lainnya.

Kanker dapat tumbuh dari jenis sel apapun dan di dalam jaringan tubuh manapun, dan bukanlah suatu penyakit tunggal tetapi merupakan sejumlah besar penyakit yang digolongkan berdasarkan jaringan dan jenis sel asal. Golongan ini terdiri dari ratusan jenis, tetapi ada tiga golongan utama.

Benjolan
Hampir semua kanker membentuk benjolan (tumor), tetapi tidak semua benjolan bersifat kanker, atau ganas; sebagian besar bersifat jinak (tidak berbahaya). Ciri tumor jinak adalah pertumbuhan yang sangat terpusat dan biasanya dipisahkan dari jaringan tetangganya oleh sebuah kapsul yang mengelilinginya. Pertumbuhan tumor jinak biasanya lambat, dan dari segi struktur biasanya sangat menyerupai jaringan asal. Dalam beberapa kasus, tumor jinak dapat membahayakan pasien jika menghalangi, menekan, atau memindahkan struktur tetangganya, seperti pada otak. Sejumlah tumor jinak, seperti polip di usus besar, dapat bersifat pra-kanker.

Penyebaran Sel Kanker
Ciri tumor ganas yang paling utama adalah kemampuan mereka untuk menyebar melampaui lokasi asal. Kanker dapat menyerang jaringan tetangga melalui perluasan langsung atau infiltrasi, atau ia menyebar ke lokasi yang letaknya jauh dan mengembangkan pembentukan abnormal kedua yang dikenal sebagai metastasis. Rute dan lokasi metastasis bervariasi antara kanker primer yang berbeda-beda.

(1) Apabila kanker menyebar melalui permukaan organ asal ke dalam suatu rongga, maka sel mungkin dapat melepaskan diri dari permukaan dan tumbuh pada permukaan organ yang bersebelahan dengannya.

(2) Sel tumor mungkin bermigrasi ke dalam saluran limfatik dan terangkut ke aliran kelenjar getah bening, atau mereka dapat menembus pembuluh darah. Sewaktu berada di aliran darah, sel tumor dialirkan ke titik yang terlalu kecil baginya. Sel tumor dari saluran lambung dan usus akan dihentikan di hati, lalu dapat mengalir ke paru-paru. Sel yang berasal dari semua tumor lainnya akan melewati paru-paru sebelum diangkut ke organ lainnya. Oleh karena itu paru-paru dan hati biasanya menjadi lokasi metastasis.

(3) Banyak kanker cenderung meninggalkan sel di dalam aliran darah pada masa-masa awal perjalanannya. Kebanyakan sel ini mati di saluran darah, tetapi beberapa di antara mereka tersangkut pada permukaan dan menembus dinding untuk kemudian memasuki jaringan. Beberapa mungkin menemukan jaringan yang menguntungkan, tempat mereka dapat bertahan hidup, dan tumbuh menjadi tumor. Beberapa lagi mungkin hanya dapat membelah beberapa kali saja, sehingga membentuk sarang sel berukuran kecil yang kemudian menjadi dorman (suatu mikrometastasis). Kelompok sel ini dapat tetap dorman selama bertahun-tahun, dan kemudian tumbuh kembali sebagai kanker. Penyebab hal ini belum diketahui.

Sel kanker, walaupun telah tersebar secara luas, mungkin mempertahankan ciri-ciri fisik dan biologis dari jaringan asal mereka. Jadi, seorang ahli patologi seringkali dapat menentukan lokasi asal tumor yang menyebar melaui pemeriksaan mikroskopis terhadap jaringan yang bersifat kanker. Identifikasi tumor kelenjar endokrin, misalnya, menjadi lebih sederhana karena mereka mungkin menghasilkan hormon yang dihasilkan jaringan induk itu dalam jumlah yang berlebih. Tumor seperti itu dapat juga memberikan respon terhadap pemberian hormon yang biasanya mengendalikan jaringan itu.

Pada umumnya, semakin suatu sel kanker tidak menyerupai jaringan aslinya, semakin ganas sifatnya dan semakin cepat ia menyebar; tetapi laju pertumbuhan kanker tidak hanya tergantung kepada jenis sel dan perbedaannya dengan jaringan asal, tetapi juga kepada beragam faktor inang. Ciri-ciri dari kanker ganas adalah keragaman sel tumor. Karena abnormalitas perkembangbiakan sel tumor, mereka menjadi lebih rentan terhadap perubahan. Seiring waktu, tumor menjadi semakin sulit dibedakan dan tumbuh semakin cepat. Tumor tersebut mungkin pula mengembangkan daya tahan yang semakin kuat terhadap kemoterapi atau radioterapi.

Prognosis dan Visi Jangka Panjang
Banyak penderita kanker kini berhasil dirawat. Misalnya saja diperkirakan bahwa, dari lebih dari 5 juta penderita kanker di Amerika, 3 juta berhasil bertahan hingga lebih daripada lima tahun, dan hampir semua yang bertahan itu dapat dikatakan telah sembuh. Pendekatan modern terhadap pengobatan kanker turut memberikan penekanan terhadap kualitas hidup pasien - baik secara jasmani maupun secara mental.

Terdapat banyak jenis kanker dimana peluang penderita untuk hidup telah meningkat berkali-kali lipat dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Mungkin pengobatan kanker anak yang mengalami perkembangan terpesat. Misalnya saja, 90 persen anak-anak dapat disembuhkan dari penyakit Hodgkin, dimana 30 tahun yang lalu jumlah ini hanya setengahnya saja. Bentuk kanker lainnya, seperti penyakit non-Hodgkin, sejumlah penyakit leukemia, dan kanker testis berhasil diobati. Demikian pula beberapa bentuk kanker kandung kemih tak menyebar tertentu, yang jika terdeteksi secara dini dapat dihambat dalam waktu beberapa tahun.

Tingkat kematian akibat kanker telah jauh berkurang pada orang-orang yang berumur dibawah 50 tahun, dan kemungkinan besar hal ini disebabkan karena gaya hidup dan lingkungan yang lebih sehat yang telah mengurangi penghirupan jangka panjang akan zat penyebab kanker. Diagnosa yang lebih dini, yang sudag tentu penting dalam semua kasus kanker, dan perbaikan pengobatan di dunia medis turut menjadi faktor penentu. Penurunan ini diharapkan dapat berlangsung juga di kelompok umur yang lebih tua seperti yang terjadi pada umur yang lebih muda ini.

Penurunan jumlah perokok di beberapa negara mulai memperlihatkan dampak dalam angka penderita kanker di negara yang bersangkutan. Misalnya saja, jumlah kematian laki-laki di Inggris akibat kanker paru-paru akhirnya mulai mengalami penurunan. Hanya saja, jumlah wanita yang meninggal akibat penyakit itu masih mengalami peningkatan; wanita Skotlandia memiliki angka kematian tertinggi di dunia akibat kanker paru-paru.

Secara menyeluruh, resiko kematian akibat kanker telah mengalami peningkatan selaam 30 tahun terakhir ini. Penyebab utamanya adalah karena kanker terutama merupakan penyakit manula dan, seiring keberhasilan pencegahan kematian pada usia muda oleh penyakit lainnya seperti penyakit jantung, lebih banyak orang yang dapat hidup cukup lama hingga mencapai umur yang rentan terhadap penyakit kanker.

Jumlah Penderita
Kanker merupakan penyebab utama kedua kematian orang dewasa di belahan Barat, dan merupakan salah satu penyebab utama kematian anak-anak akibat penyakit yang berumur antara 1 hingga 14 tahun. Meskipun demikian, penyakit ini jarang menyerang orang muda. Di Inggris Raya, kanker menyerang kira-kira 1 dari antara 650 anak-anak.

Laju kematian sesuai umur per 100.000 jumlah penduduk dari semua penderita kanker laki-laki adalah 246,5 di Hungaria (salah satu yang tertinggi), sedangkan di Meksiko laju ini hanya mencapai 83,5 (salah satu yang terendah). Bagi wanita, lajunya adalah 139,8 di Denmark dan 62,3 di Mauritius. Laju bagi Inggris dan Wales adalah 179,2 bagi laki-laki dan 125,7 bagi wanita; di Amerika Serikat, laju ini adalah 164,4 bagi laki-laki dan 110,6 bagi wanita. Untuk bentuk kanker tertentu, perbedaan laju antar negara dapat mencapai 40 kali lipat. Penelitian terhadap populasi yang bermigrasi dari satu wilayah geografis ke yang lainnya memperlihatkan bahwa perbedaan ini adalah sebagai akibat dari perbedaan gaya hidup, dan bukan karena faktor etnis. Hal ini konsisten dengan temuan lainnya yang memperlihatkan bahwa kebanyakan kanker terutama berhubungan dengan penyebab yang berasal dari lingkungan dan bukan diakibatkan faktor keturunan, meskipun keduanya dapat saling berinteraksi.

Kanker yang paling banyak menimbulkan korban di Eropa dan Amerika Serikat adalah kanker paru-paru, usus besar (kolorektal), payudara, prostat, dan perut. Jika digabungkan, setengah dari seluruh jumlah kematian akibat kanker disebabkan kanker jenis ini. Mereka sekaligus, bersama-sama dengan kanker kulit, merupakan jenis kanker yang paling umum menyerang manusia. Kanker kulit adalah kanker pertama atau kedua yang paling umum di banyak negara Barat seperti Amerika Serikat, Australia, dan Inggris Raya. Untung saja kanker kulit, kecuali melanoma maligna (jenis yang paling jarang tetapi yang paling hebat), jarang berakibat fatal.

Pencegahan dan Deteksi Dini
Kira-kira 80 persen kanker secara potensial dapat dicegah. Penyebab utama terbesar yang diketahui adalah merokok, yang menyusun 30 persen dari jumlah kematian akibat kanker. Walaupun penyebab kanker belum diketahui semuanya, tetapi semakin banyak bukti menunjukkan bahwa dampak merokok, makanan, radiasi, faktor keturunan, hormon, zat kimia, dan beberapa jenis infeksi tertentu turut mempengaruhi hal ini.

Ada beberapa tindakan yang dapat diambil orang guna memperkecil resiko terkena kanker. Semua orang seharusnya:

Deteksi dan Diagnosa
Semakin dini kanker didiagnosa dan dirawat, semakin besar peluang sembuhnya. Penyinaran berguna untuk mendeteksi beberapa kanker, namun orang masih harus waspada terhadap gejala-gejala karena kanker mungkin timbul diantara penyinaran. Setiap orang harus mencatat tanda-tanda peringatan awal kanker yang tidak bisa disinar.

Gejala-gejala berikut ini membutuhkan perhatian:

Gejala-gejala ini, termasuk juga benjolan yang tidak bisa dijelaskan, rasa sakit, kehilangan berat badan, dan kelelahan, harus diperiksakan ke dokter. Walau satu atau lebih gejala dapat menandakan sesuatu yang lain selain kanker, pemeriksaan untuk memastikan penyebab mereka adalah langkah terbaik.

Pemeriksaan fisik untuk kanker termasuk pemeriksaan dan perabaan tempat-tempat yang rentan, terutama payudara, leher, kulit, sekat rongga dada, kemaluan, dan daerah kelenjar getah bening. Dapat juga termasuk pemeriksaan lubang-lubang tubuh, khususnya pemeriksaan dubur untuk kanker usus dan prostat, dan pemeriksaan panggul untuk kanker rahim atau leher.

Sumber:  Satumed.com, Satumail

 


 

Petunjuk Baru Cara Kanker Menyebar

  Jumat, 29 September 2000

PARA peneliti selama dibingungkan oleh pertanyaan mengenai bagaimana sesungguhnya mekanisme penyebaran kanker.  Sebuah penelitian kemungkinan besar telah menemukan sebagian dari kunci jawaban di atas.  Mereka menemukan mekanisme yang mengendalikan jalannya sel dalam aliran darah, atau peredaran sel, yang mungkin bertanggung jawab atas penyebaran sel kanker di sekitar tubuh.

Peredaran sel sesungguhnya merupakan sebuah proses yang penting dan normal, namun kemungkinan juga bertanggung jawab atas metastasis, atau penyebaran dari sel-sel kanker, dimana sel-sel tersebut berpindah dengan tujuan yang sangat terarah dari tempat tumor primer (asal) ke lokasi sekunder. Misalnya ke organ paru-paru dalam kasus kanker kulit, tampaknya sel melanoma sudah terprogram untuk berpindah dengan sendirinya ke paru-paru.

Prof. Daniel Hammond dan tim peneliti dari University of Pennsylvania dan Cornell University di AS, menunjuk molekul yang mereka namakan “Molekul Goldilocks” yang mengikat sel-sel darah pada dinding pembuluh darah vena dan arteri, tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah, namun dengan daya rekat yang cukup untuk menjaga agar tidak keluar dari aliran darah.

Peredaran sel dimulai dengan daya rekat yang berputar, dimana sel-sel darah yang mengalir melalui pembuluh darah beristirahat secara berkala ketika molekul pada permukaan membentuk ikatan sementara dengan molekul Goldilock darah yang mengikat pembuluh darah.

Prof. Hammond menyamakan proses peredaran sel dengan penggunaan kode pos pada surat-surat yang dikirim langsung untuk daerah yang berbeda. “Peredaran sel darah pada jaringan merupakan hal yang krusial bagi fungsi respon kekebalan tubuh yang tepat.  Peradangan, fungsi limfosit dan melengkapkan kembali sumsum tulang setelah transplantasi semua tergantung pada hal itu.”

Ia memperkirakan bahwa penemuan tersebut mungkin berguna bagi Human Genome Project, karena mereka membantu menjelaskan hubungan antara struktur dan fungsi molekul, yang akhirnya menjelaskan bagaimana molekul bekerja, sebagaimana halnya menawarkan proses baru yang potensial dalam mencegah penyebaran kanker.

Sumber:  Satumed.com, Satunet

 


 

Penemuan Penting Untuk Kanker Payudara

Rabu, 18 Oktober 2000

LEBIH dari separuh wanita yang dirawat karena mengidap kanker payudara menderita kekambuhan.  Dan para dokter seringkali tidak bisa meramalkan secara tepat, wanita mana yang akan menderita kekambuhan kembali dari penyakitnya tersebut.  Kini para ilmuwan Italia telah membuat suatu penemuan yang dapat membantu lebih banyak wanita untuk selamat dari kanker payudara.

Hasil penelitian awal dari Dr. Pier Francesco Ferrucci, seorang ahli spesialis kanker di European Institute of Oncologist di Milan, Italia, menunjukkan bahwa suatu kunci untuk mengenali para wanita yang penyakit kankernya memiliki kemungkinan untuk kambuh, mungkin adalah sebuah protein yang disebut maspin, yang diproduksi oleh sel-sel di payudara.

Dia menemukan bahwa para wanita yang memiliki kadar maspin yang tinggi di dalam sumsum tulangnya, cenderung bebas dari penyakit tersebut selama 2 tahun, sementara mereka yang memiliki konsentrasi maspin yang rendah memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk kambuh kembali.

Sebelumnya, para ilmuwan memang telah menemukan bahwa maspin tampaknya dapat menghalangi pertumbuhan tumor ketika kanker payudara mulai terbentuk, kemungkinan dengan menghalangi pertumbuhan pembuluh-pembuluh darah yang memberi makan pada sel-sel kanker.  Tetapi penelitian baru ini merupakan langkah yang lebih maju dengan menemukan kadar maspin yang rendah juga terkait dengan pertumbuhan penyakit ini pada mulanya.

Efek maspin terutama kuat pada para wanita dengan penyakit kanker yang berat, dimana kanker telah menyusupi 20 kelenjar getah bening atau lebih. Dari 10 wanita yang masuk dalam kategori tersebut, sebanyak 8 orang memiliki maspin dalam sumsum tulangnya, dan 2 orang yang lain tidak ada.  Dua tahun setelah diagnosa tersebut, 8 pasien tersebut tidak ada yang kambuh penyakitnya, sedangkan dua pasien yang lain mengalami kekambuhan. Seorang menjadi menderita kanker hati, dan yang lain kanker paru-paru.

Sumber:  Satumed.com, Satunet


 

Hubungan Konsumsi Lemak
dan Kanker Payudara

Kamis, 19 Oktober 2000

PARA ahli selama ini seringkali menghubungkan antara diet dengan muatan lemak tinggi mungkin menyebabkan kanker payudara.  Tapi menurut penelitan yang dilakukan oleh Dr. Richard Wiseman, mungkin hal ini tidak berhubungan langsung. Tapi diet dengan muatan lemak tinggi bisa merampas zat gizi yang penting dalam tubuh guna memerangi penyakit tersebut.

Penyebab utama kanker payudara (seperti juga kanker lain) hingga kini masih belum diketahui dengan jelas. Dr. Richard Wiseman yang memimpin penelitian ini, menyimpulkan bahwa faktor-faktor seperti kegemukan, terlambat menjadi ibu atau tidak mempunyai anak kemungkinan hanya merupakan bagian kecil dari kasus, dan merupakan sebab sekunder dari faktor-faktor utama dalam timbulnya risiko. Dr. Wiseman bahkan juga tidak memasukkan genetika, polusi dan estrogen sebagai risiko yang berarti.

Bagaimanapun, beliau meyakini bahwa faktor diet, khususnya konsumsi lemak, adalah relevan. Beliau menyimpulkan bahwa hipotesa yang mana paling sesuai dengan data epidemiologi adalah bahwa lemak menghabiskan faktor esensial yang dapat menawarkan perlindungan bagi tubuh dalam melawan kanker payudara.  Dan hal ini berhubungan erat dengan faktor usia dan pengaruh hormon estrogen.

Penelitian Dr. Wiseman ini dipublikasikan dalam jurnal Epidemiology and Community Health.

Sumber:  Satumed.com, Satunet


 

Kanker Payudara

  Rabu, 04 Oktober 2000

PARA wanita selama ini - terutama yang berusia separuh baya - senantiasa disarankan untuk menjalani pemeriksaan mamografi untuk menghindari diri dari kemungkinan terkena kanker payudara stadium lanjut.  Ternyata Screening (pemeriksaan penyaring) terhadap para wanita ini ternyata tidaklah menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada melakukannya setiap tiga tahun, demikian disebutkan oleh sebuah penelitian di European Breast Conference di Brussels.

Penelitian ini melibatkan 76.000 wanita berusia antara 50 sampai 62 tahun.  Mereka menjalani satu pemeriksaan mamografi dan kemudian setengahnya dites setiap tahun, sementara lainnya mendapatkan tes hanya setelah tiga tahun, seperti yang dilakukan saat ini di Inggris.  Penelitian ini berlangsung selama empat tahun.  Hasil-hasilnya menunjukkan bahwa pemeriksaan penyaringan tahunan menemukan lebih banyak tumor kecil, namun tidak menemukan lebih banyak wanita yang telah terjangkit penyakit ini dalam stadium lanjut.

Para peneliti harus memperkirakan berapa banyak wanita yang akan meninggal sepuluh tahun setelah kanker itu didiagnosa, berdasarkan kemungkinan progresifitas dari tumor-tumor yang teridentifikasi itu.  Mereka meramalkan bahwa 32,9 persen dari para wanita yang diperiksa setiap tahun dan 35,4 persen dari mereka yang diperiksa setiap tiga tahun diperkirakan akan meninggal karena kanker payudara.

Perbedaan statistik dalam angka-angka di atas disebut sebagai tidak begitu penting.  Roger Blamey, koordinator penelitian ini berkata bahwa tambahan sebesar 56 juta poundsterling yang diperlukan untuk mendanai pemeriksaan penyaringan tahunan sebaiknya digunakan untuk cara-cara lain dalam mengobati penyakit itu.  “Dana apapun tampaknya lebih baik digunakan untuk memperbaiki kualitas – melalui mamografi dalam dua sudut pandangan, peletakan yang lebih baik serta janji kualitas,” kata Roger.

Sumber:  Satumed.com, Satunet

 


 

Tips Diet
Untuk Mencegah Penyakit Kanker

Kamis, 28 September 2000

BERAPA banyak buah dan sayuran, atau pun biji-bijian yang diperlukan sebagai diet untuk pencegahan kanker?  Dan seberapa besar ukuran setiap porsinya?  American Institute for Cancer Research meluncurkan suatu kampanye pendidikan konsumen untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Beberapa saran kampanye tersebut antara lain:

  • Pelajarilah tentang porsi makanan yang tepat untuk anda dengan cara meluangkan waktu satu hari untuk menakar jenis-jenis makanan tertentu.  Misalnya, tuang cereal ke dalam sebuah mangkuk penakar dan ingat berapa banyak yang diperlukan dalam mangkuk sarapan anda setiap pagi.
  • Pastikan dua per tiga dari porsi makanan anda terdiri dari buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian dan kacang-kacangan, serta hanya sepertiganya terdiri dari daging atau ikan.  Mintalah pelayan restoran untuk membungkus sisa daging/ikan yang anda pesan, sehingga anda bisa membawanya pulang, dan janganlah anda merasa harus mengkonsumsi seluruh makanan yang mahal itu di tempat. (Tapi kata sebagian orang. . . malu la yaaaa!)
  • Cari penggantinya.  Sebuah burger siap saji boleh dikonsumsi saat makan siang di kantor, jika menu makan malam anda sehat.  Atau pilih burger ukuran biasa, bukan ukuran seperempat pon (satu ons), dan anda akan menghemat 160 kalori.
  • Buah dan sayuran sebagai cemilan.  Belilah wortel dan sayur-sayuran lainnya yang sudah dikupas dan dibersihkan – tuang ke dalam wadah untuk ditumis atau bawa ke tempat kerja sebagai makanan ringan. Atau masukkanlah potongan-potongan pisang atau buah lainnya ke dalam cereal.
Walaupun tips ini dikeluarkan oleh American Institute for Cancer Research untuk masyarakat Amerika, tidak ada salahnya kita mengambil manfaat darinya.

Sumber:  Satumed.com, Satunet

 


 

Sel-sel Darah Yang 'Jahat'
Dapat Memicu Penyakit

Kamis, 05 Oktober 2000

RISET terhadap kanker yang terjadi akibat AIDS menunjukkan bahwa makrofag, yang biasanya melindungi tubuh terhadap penyakit, dalam beberapa situasi dapat memicu pertumbuhan tumor, demikian menurut keyakinan para ilmuwan Amerika Serikat.

Makrofag adalah salah satu jenis sel darah putih yang berfungsi sebagai sistim pertahanan tubuh dalam darah dan jaringan.  Para ilmuwan dari SLIL Biomedical di Madison, Wisonsin, menyimpulkan bahwa makrofag dapat "mengamuk" kalau virus memasukkan bahan genetiknya mereka sendiri ke dalam beberapa gen tertentu dalam tubuh.  Makrofag yang dijuluki ProMacs ini mulai berkembang biak dengan cepat.

Dalam riset laboratorium terhadap limfoma yang terkait dengan AIDS, mereka menemukan bahwa HIV telah menyusupkan DNA-nya ke dalam salah satu gen tertentu, yaitu c-fes, yang dapat menyebabkan terjadinya kanker kalau gen tersebut itu dirusak. DNA ini kemudian memicu makrofag untuk menggandakan diri, yang pada gilirannya mendorong sel-sel darah putih lainnya, yaitu limfosit, menirunya dan membentuk kanker-kanker limfoma.

Dr. Peter Molloy, direktur utama SLIL, berpendapat bahwa zat yang dilepaskan ProMacs sendirilah yang mempercepat pertumbuhan sel-sel di sekelilingnya, yang mengakibatkan terbentuknya tumor atau dalam beberapa kasus terjadinya kerusakan jaringan.

Penelitian yang lebih jauh dari tim yang sama ini menunjukkan adanya makrofag 'pengkhianat' dalam tubuh orang-orang yang HIV negatif namun mempunyai penyakit arteri dan demensia.  Tetapi para pakar di Inggris telah mengingatkan untuk tidak mengambil kesimpulan dari riset laboratorium tersebut. Memang hasil riset ini masih terlalu dini untuk menyebutkan berapa besar peranan makrofag dalam keganasan pada kanker.

Sumber:  Satumed.com, Satunet